Sudut Pandang 14 Apr 2026 14 Apr 2026

Sang Guru

Refleksi tentang kehidupan dan pemikiran Abuna K.A.M. Jusuf Roni—seorang pejuang iman yang menekankan dialog damai, penghormatan lintas agama, dan makna sejati dari kebebasan dalam menyatakan iman.

K.A.M. Jusuf Roni
Sang Guru

Setiap tanggal 4 April, banyak orang mengenangnya sebagai “Celebration of Freedom” (COF), sebuah penanda kebebasan Abuna K.A.M. Jusuf Roni dari penjara. Namun kini, makna itu terasa berbeda. Hampir setahun telah berlalu sejak beliau berpulang ke rumah Bapa di Surga, menutup sebuah perjalanan hidup yang sarat makna, keberanian, dan kesaksian iman.

Abuna bukanlah pribadi yang gemar dikenang melalui pujian atau cerita heroik tentang dirinya. Ia memang mampu bercerita dengan penuh semangat tentang pengalaman-pengalamannya, tetapi segera tampak tidak nyaman ketika kisah itu dibalas dengan sanjungan atas ketangguhan atau keberhasilannya. Sebaliknya, ketika pembicaraan beralih pada pengajaran dan gagasan, wajahnya memancarkan gairah yang tak terbendung. Waktu seolah berjalan begitu cepat saat ia mengurai pemikiran, bahkan yang paling rumit sekalipun.

Menjelang masa-masa terakhirnya, sebelum sakit menyerang, beberapa pertemuan singkat terjadi secara tak terduga—di parkiran kantor, tanpa janji. Namun di sanalah percakapan-percakapan panjang lahir. Jika ada gagasan yang mengusik pikirannya, Abuna tak ragu mengajak berdiskusi, di mana pun dan kapan pun. Baginya, kebenaran dan pemahaman tidak mengenal ruang formal.

Suatu ketika, saya pernah bertanya, “Mengapa disebut Celebration of Freedom?” Ia menjawab singkat namun dalam, “Ini bukan kebebasan saya, tetapi kebebasan untuk menyatakan iman.” Jawaban itu mencerminkan seluruh hidupnya. Kebebasan baginya bukanlah soal diri, melainkan tentang ruang untuk bersaksi.

Sebagai seorang yang pernah dipenjara bertahun-tahun karena iman, Abuna tidak muncul sebagai sosok yang keras atau agresif. Luka tidak membentuknya menjadi pembela diri yang menyerang, melainkan menjadi jembatan yang mencari titik temu—kalimatun sawa’—dengan Islam. Ia percaya bahwa misi bukanlah tentang memenangkan perdebatan, tetapi menghadirkan kabar baik melalui dialog yang tulus dan damai.

Ia berulang kali menegaskan bahwa Injil adalah “Kabar Baik”. Maka, kabar itu pun harus disampaikan dengan cara yang baik—tanpa merendahkan, tanpa menghakimi, tetapi dengan mengundang orang lain untuk berjalan bersama dalam percakapan yang saling menghormati. Ia menyebut pendekatan ini sebagai “dialog paralelisme”.

Setelah kepergiannya, saya bertemu seorang misionaris dari Korea Selatan yang secara khusus mencari pemikiran Abuna. Ia telah berkeliling ke banyak tempat, namun belum menemukan penjelasan yang utuh tentang gagasan tersebut. Baginya, pemikiran Abuna sangat unik dan belum pernah ia temui di tempat lain. Bahkan mentornya di Korea pun mengaguminya. Namun ia heran—mengapa gagasan sebesar itu justru nyaris dilupakan di tempat asalnya.

Pertemuan itu menjadi cermin yang menegur. Kami, yang pernah belajar langsung darinya, justru sering lalai menghargai warisan pemikirannya. Sebuah ironi yang menyadarkan: bahwa apa yang biasa kita anggap dekat, sering kali justru terlewatkan nilainya.

Saya teringat sebuah percakapan di ruangannya di Alfa Indah. Ia bertanya, “Yos, kamu masih ingat kenapa saya memilih nama Kemah Abraham?” Saya hanya tersenyum, dan dari senyum balasannya, saya tahu ia percaya bahwa saya mengingat.

Abraham adalah figur yang melahirkan dua garis besar—melalui Ishak dan Ismael—yang kemudian membentuk wajah keagamaan dunia. Namun sebelum perbedaan itu mengeras, keduanya pernah hidup, bertumbuh, dan belajar bersama di dalam satu kemah. Di sanalah iman diturunkan, bukan dalam perpecahan, tetapi dalam kebersamaan.

Di situlah inti kerinduan Abuna. Ia memimpikan dunia di mana agama-agama yang berakar dari Abraham dapat kembali menemukan ruang kebersamaan—saling menghargai, saling memahami, dan bertumbuh dalam dialog yang damai.

Kini, Abuna telah tiada. Namun pertanyaannya tetap tinggal: apakah kita akan membiarkan pemikirannya memudar, ataukah kita berani melanjutkan warisan itu—membangun “kemah” yang membuka ruang bagi perjumpaan, bukan perpecahan? []

Tag

Dialog Paralelisme Injil Islam Jusuf Roni Kemah Abraham Misi

Bagikan Artikel Ini

Tulisan Terkait